Salsabila

learner, teacher, and educational psychologist to be :)
Posts I Like

Apa itu cinta?

Cinta adalah kebebasan. Bukan tentang “bebas untuk” tetapi “bebas dari”.

Bukan berarti kau bebas untuk melakukan apapun pada kekasihmu, tetapi bebas dari ancaman dan ketakutan untuk memilih siapapun yang ingin kau cintai. Bukan bebas untuk menjadi (si)apapun, tetapi bebas dari tekanan dan rasa cemas untuk menjadi (si)apapun. Bukan bebas untuk menindas dan melemahkan, tetapi bebas dari penindasan dan kelemahan. Bukan bebas untuk melakukan hal-hal di luar batas, tetapi bebas dari kegagalan untuk bertanggung jawab pada batas-batas antara dirimu dan kekasihmu. Ya, bukan bebas untuk melampiaskan nafsu dan memenuhi kepentinganmu sendiri, tetapi bebas dari rasa bersalah karena kegagalanmu membanggakan seseorang yang semestinya memang kau bahagiakan.

(Fahd Djibran, dalam Perjalanan Rasa)

Sudahkah kau temukan cinta kini?

Setelah sukses dengan trip kakak guru @sbmatahari yang pertama ke puncak awal tahun kemarin, kita pun ketagihan untuk bikin trip bareng lagi sebagai sarana refreshing sekaligus teambuilding :)

Berdasarkan pertimbangan waktu, biaya, dan tingkat kepadatan kalau pergi ke kota/tempat wisata, akhirnya pilihan trip kali ini pun jatuh ke jelajah memburu matahari di ibukota :)

19 orang kakak guru kemudian dibagi ke dalam tiga tim: merah, hijau, dan biru. Nama tim menentukan warna baju yang harus dipakai serta tempat-tempat yang akan dijelajahi.
Tim merah: Museum sejarah Jakarta - Toko Merah - Jembatan Merah - Rumah akar - Menara Syahbandar di pelabuhan Sunda KelapaTim hijau: Museum nasional - Museum gajah - Museum arca - Ragusa
Tim biru: Kawasan ekowisata mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi - Taman wisata alam

Diantara tiga tim, rute tim biru (ai dkk.) lah yang paling jauh dari pusat ibukota -__- tapi worth it kok :D

Perjalanan diawali dengan berkumpul di stasiun UI pukul 14.00 dan berangkat dengan kereta menuju stasiun kota pukul 14.30. Sesampainya di stasiun kota, kita pun shalat ashar terlebih dahulu baru kemudian berpencar menuju rute masing-masing.

Stasiun kota - Kawasan Wisata Alam Mangrove

Perjalanan menuju kawasan wisata ini luar biasa sodara-sodara! Ya lamanya, ya macetnya, ya salah jurusannya..
Diawali dengan naik bus kota lanjut naik angkot yang ternyata jurusannya berbeda (supir angkotnya baru dan kurang tahu jalan). Alhasil kita harus turun dan jalan cukup jauh untuk naik angkot lain dengan rute yang benar. Sesampainya di kawasan wisata, ternyata kita harus menerima kenyataan kalau kawasannya udah tutup T.T (tutup pukul 17.00 sementara kita baru sampai pukul 17.15). Karena sayang udah pergi jauh-jauh tapi nggak bisa masuk, akhirnya kita minta Karin dan Fadel untuk bujukin pak satpam supaya ngasih izin kita masuk sebentar. Ternyata bujukannya berhasil dan kita diizinkan untuk foto-foto sebentar :D
*psst, kalau mau foto di sini pakai kamera hp / digicam aja. Kalau mau bawa kamera SLR, harus bayar 150ribu

Misi: "Melakukan pose ‘jangan galau nanti mati’ di jembatan kayu (minimal 2 orang)"

image

(yang jadi ‘korban’ ki-ka: Fadel dan Abe)

Foto-foto lain yang diambil di sini..

image

image

image

Kawasan Wisata Alam Mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi

Lokasi kedua letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pertama. Cukup berjalan kaki sebentar + naik angkot, lalu sampailah di gedung yayasan Buda Tzu Chi yang terletak di kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk. Sampai di sana, kita pada amaze gitu karena gedungnya besar banget dan berasa lagi di China. Hihihi..

Ini dia gedung yayasan Buda Tzu Chi X)

image

Misi: "Melompat di depan Tzu Chi Primary School (semua)"

image

Foto lainnya..

image

image

image

Yayasan Buda Tzu Chi - Taman Wisata Alam

Lokasi ketiga terletak persis di belakang area yayasan Buda Tzu Chi. Tapi karena sudah maghrib dan tempatnya sudah tutup, jadinya kita nggak sempat untuk menjalankan misi berikutnya (padahal misinya seru, “berfoto di atas kano” X)). Kita hanya menumpang untuk shalat maghrib dan isya aja di sana. Masjidnya bagus loh! Bangunannya terbuat dari kayu dan berada di atas danau :D (belum nyimpan fotonya)

'Perjuangan' kita ternyata tidak hanya di awal perjalanan aja, tapi juga hingga akhir perjalanan X)
Merasakan gelap-gelapan sebentar di masjid (karena mati lampu), menunggu busway yang datang hingga 30 menit, menunggu pak supir busway makan malam dulu, bersabar dengan perut kelaparan (kita nggak mau makan di PIK karena takut nyampe Depok terlalu larut), kereta di st.kota yang datang terlambat, dan diakhiri dengan makan mie aceh pukul 11.30 malam! (karena kita baru nyampe Depok jam segitu).

Trip ini sebenarnya belum berakhir. Masih dilanjutkan dengan permainan2 lain keesokan harinya. Tapi karena ai nggak punya fotonya, ai nggak cerita deh. Pokoknya mah seruuuuu XD

yasirmukhtar:

superjuhe:

INI KEREN!

Keren, keren.

yasirmukhtar:

superjuhe:

INI KEREN!

Keren, keren.

Ikhlas itu begini: Kau rawat kepompong hingga menjadi kupu-kupu, meski tau bahwa semua yang bersayap akan selalu terbang

(via amyraagustini)

:):):):):):)

(via isnidalimunthe)

Mimpi adalah bagian terindah dan terendah dari Visi. Jika hendak menaikannya satu aras, jadikanlah ia cita-cita. Bagaimana caranya? Sematkan saja sebuah tanggal padanya. Karena cita-cita adalah mimpi yang bertanggal.
Salim A. Fillah

2minggu yang lalu..
Me: “Pi, Pekanbaru apa kabar?”
Papi: “Kabar apa?”
Me: “Dapat kabar kalau Pekanbaru lagi berasap ya?”
Papi: “Kok Shelly kaget? kayak nggak pernah tinggal di Pekanbaru aja”

Begitulah.. Hampir tiap tahun Pekanbaru selalu ‘kedatangan’ asap dari (ke)bakar(an) hutan. Jadi perihal asap ini sudah lumrah bagi warga di sana.
Tanah / lahan di Riau itu punya potensi besar untuk penanaman kelapa sawit, si pohon penghasil banyak uang. Hal inilah yang membuat warga / perusahaan sangat tergoda untuk mengganti lahan yang dimilikinya dari hutan biasa menjadi hutan kelapa sawit.
Biar proses penggantian cepat terjadi caranya gimana? Ya dibakar!
Kalau warga mungkin hanya 1 atau 2 hektar yang dibakar (hmm.. nggak hanya juga sih ini). Kalau perusahaan? Bisa berpuluh beratus bahkan beribu hektar yang mereka bakar. Akibatnya ya seperti sekarang ini. Asap menyelubungi langit2 kota hingga provinsi atau negara tetangga :(
Memang, tidak setiap tahun asap yang ada itu separah seperti sekarang. Tapi selalu ada.. (Sepertinya sekarang memang yang paling parah) :(

Lalu, gimana kabar keluarga ai di sana?
Ketika ditelpon kemarin, alhamdulillah papi dan mami bilang kalau mereka baik-baik aja (semoga memang begitu). Tapi mami kepalanya sekarang udah mulai pusing. Mungkin karena pengaruh asap :(
Aktivitas keluar rumah sangat dibatasi kecuali kalau urgent banget. Pintu dan jendela rumah juga selalu ditutup supaya asap nggak masuk ke dalam.
Ai berharapnya sih papi dan mami bisa ngungsi ke sini atau keluar Riau. Tapi apa daya? Aktivitas bandara terhenti. Kalau mau bawa mobil, papi juga nggak bisa nyetir untuk perjalanan yang sangat jauh karena pumya penyakit vertigo. Jadinya ya bersabar aja di rumah dan terus berdo’a semoga asapnya segera hilang :(

Hmm.. Berdo’a semoga hujan segera turun supaya asapnya bisa hilang, dan warga di sana baik-baik aja menurut ai nggak cukup. Perlu ditambah lagi dengan berdo’a semoga semua pihak yang bertanggungjawab bisa segera bertobat (apa dibumi hanguskan sekalian? :p ) dan nggak ada lagi kebakaran hutan/lahan seperti ini. Aamiin..

muhammadakhyar:

isnidalimunthe:

Hai hai hai, kalau yang kali ini mau share ilmu yang didapat dari kak Muhammad Akhyar di kulela (kuliah di Lele Lela) tiap sehabis ngajar di Sekolah Bermain Matahari.

Kalau kata Kak Akhyar di buku yang dibacanya, ada 4 perasaan yang merupakan bahasa emosional yang universal:

  1. Perasaan senang. Kalau ada orang yang tertawa, kita bisa menyimpulkan kalau dia sedang senang.
  2. Perasaan sedih. Kalau ada orang yang menangis, kita bisa menyimpulkan kalau dia sedang sedih.
  3. Perasaan marah. Dengan ekspresi marah dan nada-nada yang mengikutinya, kita bisa menyimpulkan kalau seseorang sedang marah.
  4. Perasaan jijik. Dengan eskpresi jijik yang sedemikian rupa, kita bisa menyimpulkan kalau seseorang sedang merasa jijik.

Nah, selain itu, perasaan-perasaan lain adalah sesuatu yang sifatnya plural. Malu adalah salah satu contoh sifat yang plural itu. Sesuatu yang memalukan bagi kita belum tentu memalukan bagi orang lain.

Terhadap anak, orangtua harus mendefinisikan dan membuat batasan malu itu dengan jelas. Define it clear for our children. Jangan cuma bilang, “eh ga boleh ngomong gitu, jorok.” “eh jangan gitu ah, tabu bilang gitu.” Tapi, orangtua harus membuat jelas, kenapa itu dianggap tabu di masyarakat. Lebih baik lagi, jika orangtua memberikan perbandingan nilai yang terjadi di tempat lain.

Contoh sederhana, tentang berpakaian. Orangtua menjelaskan bagaimana norma-norma berpakaian yang baik. Kenapa sih kita harus menutup kemaluan kita. Kenapa perempuan memakai bra. Dan seterusnya. Lalu, jelaskan pula kalau di ujung Papua sana, ada loh suku yang hanya pakai koteka. Hal ini karena memang budaya mereka disana menganggap bahwa bagi laki-laki memakai koteka itu cukup. Di Eropa, orang-orang berpakaian dengan bla bla bla bla (dan seterusnya dan seterusnya). Dengan demikian, anak akan mengerti tentang konsep berpakaian. Anak kita akan tumbuh dengan pemahaman yang utuh tentang sesuatu karena dia tidak hanya diajarkan apa yang menurut budaya kita benar/layak/dan acceptable, tetapi juga apa yang berlaku di tempat lain. Ini juga sekaligus mengajarkan anak menghargai perbedaan. 

Orangtua juga harus open terhadap segala pertanyaan anak, meski itu hal yang biasanya tabu untuk dibicarakan. Kalau kata kak Akhyar, “ya kalau bukan ke lo, kemana lagi anak-anak lo akan menceritakan hal-hal tabu dan liar yang ada di pikirannya?”

Kata Kak Akhyar lagi, ya it’s OK sih kalau apa-apa lo bilang tabu ke anak, tapi harus terima setidaknya 3 konsekuensi ini:

  1. Ih lupa gw apa konsekuensi pertama #fail hahaha.
  2. Anak akan membicarakannya tidak di depan lo.
  3. Anak akan menjadikan itu bahan bercandaan. Misal, ada satu teman wanitanya yang kemarin dadanya kelihatan. Karena tidak ada yang secara terbuka membicarakan “kenapa dadanya kemarin bisa kelihatan?”, kayak semua pura-pura lupa gitu padahal ingat, jadilah itu dijadikan bahan becandaan di belakang. Nah loh, ga bener kan?

Maka dari itu, orangtua harus terbuka dengan hal-hal yang secara budaya dianggap hal yang malu/tabu dan mendefinisikannya dengan jelas kepada anak.

Sekian sharing kulela-nya. Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan ditanyakan kepada kak Akhyar yah hahaha. Terimakasih \=D/

BerSEMANGAT!!

sebagai tambahan:

merujuk ahli emosi, Paul Ekman, terdapat enam emosi yang ditemukan di seluruh kebudayaan: marah, jijik, takut, senang, sedih, dan terkejut. 

sementara malu adalah emosi yang sifatnya kultural, tidak universal. salah satu transmisinya dari satu generasi-ke-generasi adalah adat dan budaya.

konsekuensi-konsekuensi yang masih hipotetik itu:

1. Karena ia tabu berarti ia tidak boleh dibicarakan secara terbuka.

2. Karena tak boleh dibicarakan secara terbuka, anak-anak anda tak bisa anda harapkan untuk membicarakannya di depan anda. 

3. Sayangnya dorongan itu terlalu besar untuk tidak dibicarakan. Akhirnya timbul bisik-bisik di antara generasi yang merasa senasib itu (generasi yang tak boleh membicarakan seks secara terbuka).

4. Bisik-bisik tak akan pernah menjadi jelas, asal muasalnya, klarifikasinya, sehingga akan dibicarakan dengan malu-malu.

5. Hal-hal yang memalukan jika dibicarakan hanya akan menimbulkan tawa karena selalu ada ironi di sana. Tak boleh tetapi mengasyikkan juga.

6. Tawa akan berlanjut jadi canda. Ikhtiar untuk lari dari kenyataan sebenarnya kepada konstruksi alam pikiran sendiri. 

7. Jika ini terjadi di antara para anak laki-laki anda, perempuan dan tubuhnyalah yang jadi tema utama.

8. Anda tak akan bisa mengharap manusia yang suka menjadikan sesuatu sebagai bahan canda, dalam hal ini perempuan dan tubuhnya, suatu saat akan menghormati hal itu.

9. Anda mempertahankan kekerasan seksual yang terjadi.